Mengenang Perjalanan Hidup dan Cinta di Wisma Habibie & Ainun

Beruntung minggu lalu saya diundang ke sebuah acara yang diselenggarakan di Wisma Habibie & Ainun. Saya kira tempatnya tidak jauh beda dengan objek wisata lain, atau setidaknya seperti museum. Ternyata, ini benar-benar rumah yang ada di dalam komplek dan sebagian bangunannya masih digunakan oleh keluarga. Di sinilah kedua Eyang yang lekat dengan kisah cintanya merajut kehidupan. 


Mengenang Perjalanan Hidup dan Cinta di Wisma Habibie & Ainun

Berikut alamat lengkap Wisma Habibie & Ainun dan sudah ada di Google Maps.
Wisma Habibie & Ainun
Jl. Patra Kuningan XIII No.5, RT.6/RW.4
Kuningan Timur, Kecamatan Setiabudi,
Kota Jakarta Selatan, DKI Jakarta 12950

Bila diwakilkan dalam satu kata, kediaman ini begitu HANGAT. Mungkin karena saya sudah pernah menonton filmnya, jadi yang terbayang ya rumah tangga yang penuh cinta. Rumah ini memang milik pribadi Habibie. Bahkan sudah ditempati sejak sebelum beliau menjadi menteri. 


Keseluruhan area wisma memiliki 5 bangunan. Cuma, tidak semuanya dapat dimasuki pengunjung karena ada yang masih ditempati keluarga. Sekadar informasi, kunjungan ke Wisma Habibie & Ainun ini tidak dibuka setiap hari, melainkan ada program terjadwalnya beberapa bulan sekali. Tur sejarah terdekat akan dilaksanakan di awal Agustus 2026 nanti dengan harga Rp225.000. Lengkapnya bisa langsung dilihat di Instagram @wismahabibieainun.

Nah, langsung saja, berikut beberapa ruangan yang kemarin dijelaskan oleh Mas Hans, pendamping tur grup kami. Semuanya benar-benar memiliki cerita, yang bahkan salah satu ruangannya membuat saya nyaris menitikkan air mata.

Ruang Lobby dan Selasar

Ruang Lobby

Ya, wisma ini memiliki lobby. Keren kan? Tapi, bukan sembarang lobby, di sini dikelilingi 5 panel yang menggambarkan 5 pulau besar Indonesia dengan tradisi dan budayanya, yaitu Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan Papua. Dibuat sedemikian menarik, elegan, kecokelatan seperti berbahan tembaga ditambah biru muda, dengan ukiran-ukiran yang mengagumkan. Ditempelkan dalam frame yang menyatu dengan dinding. 

Kemudian di lantai dan atap lobby juga terdapat peta Indonesia bernuansa biru. Bagian lantai menggambarkan Indonesia sebagai negara maritim dengan flora-fauna lautnya, sedangkan yang di bagian atap menggambarkan kekayaan flora dan fauna Indonesia yang ada di darat. 

Flora dan fauna Indonesia di lantai dan atap

Masuk ke bagian dalam, terdapat selasar untuk menuju ruangan lain yang diisi oleh panel-panel yang melambangkan keberagaman agama. Sama besarnya, sama bagusnya, dengan desain bernuansa biru-kekuningan tembaga atau perunggu. 

Selasar yang menjunjung tinggi keberagaman agama di Indonesia

Melalui lobby dan selasar ini, Habibie berpesan bahwa walaupun memiliki latar belakang adat, budaya, agama yang berbeda, jangan sampai melupakan jati diri sebenarnya sebagai bagian dari Indonesia yang satu. Sebaliknya, keberagaman itu pun juga harus dilestarikan, misalnya dengan tetap mempertahankan bahasa daerah dan ragam budayanya.

O iya, di lobby sudah dipajangkan juga foto romantis Eyang Habibie-Ainun yang selama ini hanya saya lihat di media sosial, portal berita, atau televisi. Melihatnya secara langsung, berhasil menularkan kisah kasih manis keduanya. Bikin sumringah. 

Pendopo Habibie & Ainun

Pendopo Habibie & Ainun

Dari pintu masuk yang sama-sama di bagian depan, berbeda dengan pintu lobby, atau bisa juga dari lobby dan melewati selasar, terdapat pendopo yang luas. Agar jelas, saya bagi menjadi 3, yaitu ruang tamu, ruang pendopo tengah, dan ruang memorial.

Ruang Tamu

Ruang tamu

Seperti rumah pada umumnya, di depan terdapat ruang tamu untuk menerima tamu dari dalam dan luar negeri. Di sini terdapat banyak sekali lukisan yang dipilih sendiri oleh Ainun, yaitu lukisan-lukisan karya Maria Tjui. Begitu pula dengan bayak sekali pajangan-pajangannya. Ternyata Eyang Ainun juga sama dengan istri-istri pada umumnya yang lebih dominan menata rumah, hehe.

Baju asli milik Habibie dan Ainun pun juga ditaruh di sini. Setelan jas berwarna dongker lengkap dengan sepatu dan peci, serta setelan kebaya kuning dan rok cokelat yang juga dengan sepatu. Persis dengan pakaian yang dikenakan pada foto di sebelahnya.

Cerita menariknya, justru ada di sepatu. Bila Eyang Habibie memesan sepatu, pasti langsung 2 pasang. Sepasang ditaruh di Indonesia, sepasang lagi di Jerman. Sepatunya juga bertumit, untuk menyelaraskan tinggi. Tapi, khusus tumit sepatu Eyang Ainun, juga digunakan untuk mengingatkan Eyang Habibie minum obat. Bila mendengar tiga kali tok tok tok tumit sepatu, Eyang Habibie langsung paham dan segera meminum obatnya. Ya ampun, perhatian banget. Saya reflek senyum-senyum sendiri ketika diceritakan Mas Hans.

Ruang Pendopo Tengah

Ruang Pendopo Tengah

Bagi saya, ini seperti ruang keluarga. Acara kumpul-kumpul yang lebih akrab, sering diadakan di sini. Suasananya memang layaknya ruang keluarga yang ada di tengah-tengah rumah. Ada satu fakta yang tidak pernah saya sangka. Ternyata  Habibie suka sekali nonton sinetron Cinta Fitri. Di ruang inilah beliau menontonnya. Kalau lagi ke Jerman, rekaman sinetronnya sampai dikirimkan ke sana supaya tidak ketinggalan. 

Kursi-kursi unik dan antik diletakkan di salah satu sisi dan tidak boleh diduduki. Begitu pula meja-meja kayu dan foto-foto serta lukisan kedua Eyang. Ini ruangan terhangat bagi saya karena terasa sekali kesan kekeluargaannya. Lebih banyak foto juga bisa dilihat di sini. 

Beberapa foto dan lukisan di Wisma Habibie & Ainun
Beberapa foto dan lukisan di Wisma Habibie & Ainun

Toilet yang masih dijaga keasliannya
Toilet yang masih dijaga keasliannya
Terdapat toilet yang sekarang digunakan oleh pengunjung. Walau cuma toilet biasa, tapi kesan antiknya terasa. Terdapat kaca besar yang ada bagian bercak kehitaman karena dimakan usia. Benar-benar mempertahankan keasliannya, jadi tidak diganti. Bukan yang mewah, tampak sederhana dan cukup. 

Ruang Memorial

Ruang Memorial

Ruangan paling kecil, tapi yang bikin saya hampir nangis. Di sinilah ruang bersemayam Eyang Habibie dan Eyang Ainun. Mana diputarkan pelan lagu Cinta Sejati sebagai pengiringnya. Merinding sekaligus haru. Al-fatihah.

Dulu ruangan ini digunakan untuk beribadah. Makanya dipisah dengan pembatas kayu bermotif khas Madura yang estetik untuk memberikan pembeda dengan ruang keluarga. Terdapat beberapa koleksi yang bisa dikatakan mewah pada zamannya, sebuah kursi yang tetap unik dan khas, serta karpet besar di tengah-tengah yang diberi sekotak bunga-bungaan sebagai penanda bahwa ini merupakan ruang persemayaman saat Eyang Habibie dan Ainun meninggal. 

Mencium aroma parfum Eyang Habibie
Mencium aroma parfum Eyang Habibie
Mas Hans juga memperbolehkan kami mencium parfum yang selalu dipakai oleh Habibie semasa hidup. Wanginya khas, seperti wood gitu, dan kami langsung mencium aromanya dari syal milik Eyang Ainun. Seperti mendapat kesempatan langka. Saking dijaganya, syal berparfum ini disimpan dalam kotak kayu khusus.

Aula Belakang

Aula Belakang

Dulunya merupakan area terbuka untuk olahraga seperti badminton. Kemudian sempat amblas karena hujan besar. Akhirnya pihak keluarga berinisiatif untuk menjadikannya aula tertutup yang digunakan sebagai tempat acara keluarga yang ada catering makanannya. Kata Mbak Melanie Subono, cucu Eyang Habibie (ayah Mbak Melanie merupakan keponakan dari Habibie), menu wajib yang selalu tersedia adalah mie kangkung kesukaaan eyangnya itu. Aula ini pun kerap digunakan sebagai tempat open house saat lebaran dan pengajian.

Desain aula ini tradisional mewah. Saya sampai memotret setiap sudut hingga ke langit-langitnya. Dekorasinya kebanyakan kayu yang diukir. Dinding kaca di sisi luarnya membuat aula ini terang benderang saat siang. Kebetulan ini menjadi titik kumpul dan makan siang bersama saat acara saya kemarin.

Berbagai penghargaan yang diterima oleh Habibie dan Ainun
Berbagai penghargaan yang diterima oleh Habibie dan Ainun
Aula ini juga memiliki sejarah yang erat kaitannya dengan akhir era reformasi. Pada tahun 1998, Habibie dan rekannya berdiskusi di sini sesaat sebelum dilantik menjadi presiden ketiga. Salah satunya bersama Ginanjar Kartasasmita untuk menyusun rencana ke depan untuk Indonesia. Di dua sudut aula terdapat berbagai penghargaan yang diterima kedua Eyang dan juga foto saat pelantikan menjadi presiden. 

Taman Intelektual

Taman Intelektual

Salah satu area rumah yang disenangi Habibie. Kata beliau, dalam sebuah rumah itu sebaiknya ada tempat hijaunya. Ditambah beliau juga suka tanaman, yang dibuktikan dengan kehadiran Habibie sebagai inisiator Museum Sejarah Alam Indonesia, tidak heran bila di rumahnya sendiri terdapat taman yang cukup luas.

Di taman ini ada track jogging yang biasa menjadi tempat Habibie melakukan olahraga ringan. Dilengkapi pula dengan beberapa patung yang memiliki filosofi mendalam mengenai ilmu pengetahuan dan pendidikan, yaitu patung The Thinker, Ganesha, dan dua lainnya. Tepat di tengah taman, menjulang pohon palem sebagai pohon kesukaan Habibie karena semua bagiannya yang bermanfaat.

Tembok bermotif batik Kalimantan
Tembok bermotif batik Kalimantan
Yang menarik justru cerita dari salah satu sisi dinding, yang terlihat jelas dari taman ini. Dinding itu bermotifkan batik dari Kalimantan yang sengaja dibuat Eyang Habibie setelah melihatnya di tas Eyang Ainun. Romantis banget kan?

Perpustakaan Habibie & Ainun

Perpustakaan Habibie & Ainun

Ini ruangan yang seperti surga bagi saya. Tidak menyangka saja di dalam sebuah rumah terdapat perpustakaan megah. Bertingkat pula. Saat masuk, saya merasa tidak sedang berada di Indonesia, melainkan di negara luar. Suasananya hangat, nyaman, mewah, tentunya dengan berlimpah koleksi yang mencapai 5.500 buku!

Dulu namanya adalah Perpustakaan Peradaban. Lalu di tahun 2011 diganti menjadi Perpustakaan Habibie & Ainun untuk mengenang kedua Eyang dan niat mulia agar perpustakaan ini bisa menjadi ruang ilmu bagi siapa saja. Makanya, buku yang ada bukan hanya bertema teknologi sesuai dengan bidang kesenangan Habibie, melainkan juga ada buku-buku budaya, politik, sejarah, seni, ekonomi, dan banyak lagi.

Di perpustakaan ini terdapat lukisan besar Habibie dan Ainun karya Basuki Abdullah. Namun, ada satu lukisan belum jadi, yang belum sempat diselesaikan beliau karena sudah lebih dahulu dipanggil Yang Maha Kuasa. Keluarga memilih tetap menyimpan lukisan yang belum jadi tersebut alih-alih dilanjutkan pelukis lain.

Ada satu lagi yang unik. Sebelum memasuki perpustakaan, terdapat jembatan yang diapit oleh dua kolam ikan kaca. Ternyata, jembatan ini terinspirasi dari kisah Nabi Musa yang membelah lautan. Karena kolamnya dari kaca, airnya jadi terlihat jelas dan ternyata memang sengaja dibuat mirip. Wah, kalau tidak dijelaskan, mungkin saya hanya sebatas memandang ikan-ikan di kolam Setelah tahu, kekaguman saya akan setiap cerita di kediaman Eyang Habibie dan Ainun semakin besar.

Jembatan menuju perpustakaan yang terinspirasi dari kisah Nabi Musa
Jembatan menuju perpustakaan yang terinspirasi dari kisah Nabi Musa

Disediakan pula mushala yang nyaman
Info tambahan: disediakan pula mushala yang nyaman
Dari sudut pandang saya, Wisma Habibie & Ainun ini bukan hanya sekadar tempat tinggal tokoh dan pahlawan negara, yang mencerminkan kecerdasan beliau dan kaya akan kisah sejarah. Namun, juga menggambarkan cinta dan kehangatan keluarga dengan kebiasaan-kebiasaan yang juga tak jauh beda dengan masyarakat pada umumnya. 

Bila teman-teman ada kesempatan ke Wisma Habibie & Ainun, sisi Eyang yang mana yang ingin teman-teman tahu? Kisah cinta dan romantis apa yang bikin penasaran? Cerita di kolom komentar, ya.

Semoga bermanfaat.

Post a Comment